Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jokowi Takut Rizieq

Jokowi Takut Rizieq
Oleh: M Rizal Fadillah

Dari memimpin organisasi yang tegas terhadap kemungkaran dan awalnya terkesan ‘sempalan’ di tengah ormas-ormas Islam, ketokohannya semakin menguat. Jutaan umat dicerahkan lewat khutbah Jum’at 212 yang menggugah dan menyadarkan.
 
Ahok yang diback-up Pemerintah dan aparat penegak hukum, akhirnya tumbang. Ruang tahanan pun dirasakan, meski dalam layanan yang istimewa. Maklum ‘anak raja’.

Habib Rizieq diberondong fitnah. Hijrah ke pengasingan dan terus diganggu. Terakhir kasus bendera ‘Isis’ di dinding rumah. Serangan balik terjadi, yang diburu aparat Saudi adalah komplotan pembuat fitnah. Intelijen bermain-main di Sarra Sittin, area kediaman Rizieq. Episode berikut masih publik tunggu.

Rupanya (rezim) Jokowi sangat takut pada Habib Rizieq. Jaringan kekuasaan mencoba membuat berbagai pola untuk melumpuhkannya di dalam dan luar negeri. Namun upaya itu hingga kini rontok. Tak menampakkan hasil. Sementara sang tokoh makin berkibar. Meski berada di Mekkah, suaranya masih mampu memekakkan telinga pembencinya di tanah air. 

Dari jarak jauh silaturahim kekuatan berjalan. Penguasa makin takut dan bingung menghadapi. Mau bilang bukan urusan, nyatanya mesti diurus juga. Mau nyatakan itu tugas instansi, ujungnya tanggung jawab Jokowi. Rizieq nampaknya menjadi mimpi buruk setiap hari.

Ibrahim ditakuti Namrud, ditangkap dan dibakar. Musa dikejar Fir’aun karena takut mimpi jadi kenyataan. Kekuasaan yang ditumbangkan. Nabi Muhammad ditakuti ‘rezim’ Abu Jahal, lalu difitnah, diteror, dan diancam bunuh. Begitulah sejarah mencatat para penguasa yang ketakutan oleh suara kebenaran.

Yang diperjuangkan Rizieq Shihab adalah kebenaran dan keadilan. Karenanya ditakuti rezim yang ingin berkuasa dua kali. Tetap saja gelisah walau musuh berada di luar negeri.

Ketakutan sering membuat sikap kekanak-kanakan, hilang akal, nekad, atau keji. Walau tampilan diri sederhana, lugu, atau baik hati. Teori Casare Lombroso yang menyatakan tampang kriminal biasa menjadi pelaku kriminal, sudah tak berlaku lagi dalam ilmu kriminologi. Wajah apa pun bisa menjadi penjahat.
 
Orang penakut biasa menyembunyikan banyak hal. Karenanya suka menutupi dengan kepura-puraan. Pencitraan.

Mimpi buruk bisa jadi kenyataan, yang ditakuti telah menjadi singa yang mengaum, menerkam, dan mencabik-cabik kekuasaan yang dijaga dengan segala cara. Jika Allah tetapkan waktu untuk tumbang, tak ada yang bisa mempercepat atau memperlambat. Jabatan kemuliaan, kini berubah jadi kehinaan. Kepura-puraan menjadi ajang penghukuman. Menyedihkan.

Sumber: Warta Pilihan